Sumur Minyak Pertamina Banyak yang Menganggur

 

Upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak mentah menjadi 1,3 juta barrel per hari pada tahun 2009 bisa dicapai dengan mengaktifkan kembali kegiatan di lapangan minyak milik Pertamina yang saat ini dibiarkan menganggur. Sesuai data Exploration Think Tank Indonesia atau ETTI, jumlah lapangan milik Pertamina yang menganggur mencapai 52 sumur.

Demikian diutarakan Chairman ETTI Andang Bachtiar di Jakarta, Selasa (28/3). Sumur-sumur yang menganggur itu memiliki cadangan minyak, tetapi ditinggalkan oleh Pertamina karena tidak ekonomis pada saat dieksplorasi.

Selain itu, pemerintah juga dapat meningkatkan produksi dengan mengaktifkan lapangan milik kontraktor bagi hasil yang dibiarkan menganggur. Banyak lapangan yang pada masa lalu hanya bisa berproduksi di bawah 200.000 barrel per hari sehingga ditinggalkan oleh perusahaan minyak raksasa karena dinilai tidak ekonomis.

Menyinggung blok migas, pemerintah juga harus mempercepat kegiatan eksplorasi dan produksi blok-blok yang telah diberikan kepada Pertamina. Beberapa blok yang dikuasai dan belum dioperasikan Pertamina adalah Blok Aru, Bunga Mekar, Musi Klingi, North Central Java, Suci-Nona, Barito, Sangatta, Matindok.

"Sebenarnya Blok Sanggata pada tahun 80-an sudah dieksplorasi oleh Pertamina dan menemukan cadangan minyak. Tetapi kegiatan operasi terhenti karena Pertamina tak memiliki dana yang cukup," ujar Andang.

Andang juga menyesalkan karena kegiatan eksplorasi dan produksi dari 39 blok PSC yang baru diberikan pada tahun 2003 hingga 2005 belum menunjukkan hasil yang memadai. Seharusnya, untuk Blok yang diserahkan pada tahun 2003 sudah diketahui berapa besar potensi produksinya.

General Manager Badan Operasi Bersama Bumi Siak Pusako Karsani Aulia mengatakan, kelangkaan BBM dan masalah-masalah sosial yang timbul semakin hari semakin serius akibat produksi minyak nasional menurun di bawah satu juta barrel per hari. Selain itu, subsidi BBM terus meningkat dan membahayakan keuangan negara.

Namun, sayangnya, tidak terlihat adanya solusi dan inisiatif yang efektif dari pemerintah untuk mengatasi penurunan produksi minyak. Kinerja lembaga birokrasi di sektor migas, bahkan ternyata tidak efektif dalam menjawab tantangan pada saat ini

"Orientasi birokrasi pemerintah yang bersifat jangka pendek dan taktis tidak membantu peningkatan produksi. Tekanan politis terlalu berat sehingga sulit membuat kebijakan untuk meningkatkan produksi," ujarnya.

Percepat Blok Cepu

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (Menneg BUMN) Sugiharto di Surabaya mengatakan, pemerintah berupaya merealisasikan percepatan produksi Blok Cepu. Diperkirakan dari empat lokasi sumur yang ada, dua hingga empat lokasi sumur segera dieksplorasi.

 

"Kami Terus berupaya untuk mewujudkan percepatan pengembangan wilayah atau fast track development, baik standar pengembangan, rencana kerja, perencanaan, hingga pelaksanaannya," kata Sugiharto.

Produksi Blok Cepu yang terdiri dari empat sumur ini diperkirakan memacu peningkatan penerimaan pendapatan negara. "Apabila supply dan demand berimbang, maka fiskal negara juga meningkat," kata Sugiharto.

Selama ini penggunaan BBM masyarakat masih disubsidi pemerintah. Jika minyak mentah dari BBM dihitung dengan jumlah kebutuhan lokal seimbang, maka tidak perlu lagi mengambil dana subsidi dari Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN).

Source : Kompas