Pertamina Mulai Eksplorasi Sumur Minyak Baru
Selasa, 3 April 2007




SURABAYA, KOMPAS - Dalam rangka meningkatkan produksi minyak mentah, PT Pertamina (Persero) mulai melakukan kegiatan eksplorasi minyak pada sumur-sumur baru di samping mengaktifkan kembali kegiatan di lapangan minyak yang sebelumnya menganggur.

Senior Vice President Upstream Business Development PT Pertamina (Persero) Tri Siwindono, Selasa (3/4) di Surabaya mengatakan sedikitnya ada 23 sumur minyak baru di mana empat di antaranya berada di Jawa Timur, yang akan dieksplorasi pada tahun 2007.

Dari 23 sumur tersebut, potensi cadangan minyaknya diperkirakan mencapai 490 juta barrel. Menurut Pertamina diperlukan waktu rata-rata tiga tahun sampai lima tahun untuk melakukan seluruh rangkaian kegiatan mulai dari proses penemuan sumur sampai dengan berproduksi.

Akan tetapi Pertamina berencana melakukan proses percepatan sehingga seluruh rangkaian kegiatan eksplorasi sampai dengan eksploitasi bisa dilakukan dalam jangka satu tahun sampai satu setengah tahun. Proses percepatan itu telah berhasil diterapkan saat mengeksploitasi sumur minyak yang berlokasi di Pondok Tengah, Bekasi, Jawa Barat.

Diakui Tri Siwindono untuk melakukan kegiatan eksplorasi sumur termasuk usaha menemukan lapangan baru tidaklah mudah. Selain itu juga memerlukan dana yang sangat besar. Kendala pendanaan itulah yang saat ini dihadapi oleh Pertamina.

Sebagai gambaran untuk melakukan suatu kegiatan eksplorasi hingga sumur berproduksi diperlukan sedikitnya modal sebesar 3-4 juta dollar Amerika Serikat per sumur. “Kalau Pertamina punya 23 sumur baru, maka dana yang harus disediakan minimal 92 juta dollar Amerika Serikat,” ujarnya.

Selain melakukan eksplorasi pada sumur baru, Pertamina juga akan merevitalisasi sumur-sumur tua yang selama ini dibiarkan menganggur. Jumlahnya mencapai puluhan sumur. Menurut data Exploration Think Tank Indonesia atau ETTI, jumlah lapangan milik Pertamina yang menganggur mencapai 52 sumur.

Produksi minyak yang dihasilkan memang tidak banyak diperkirakan hanya sekitar 200-300 barrel per hari. Biaya investasi yang diperlukan untuk menghidupkan kembali kegiatan eksploitasi juga tidak sebanyak biaya investasi pada sumur baru.

Sebagai contoh, untuk mengalirkan minyak dari sumur ke instalasi pengolahan Pertamina pada sumur tua mungkin tidak memerlukan jaringan pipa. Akan tetapi cukup diangkut secara manual menggunakan mobil tanker.

Tri Siwindono menambahkan, saat ini sedang dikaji peraturan pemerintah tentang pengelolaan sumur-sumur tua. Salah satunya apabila ada investor yang berminat melakukan eksploitasi pada sumur tua harus bekerjasama dengan Koperasi Unit Desa setempat. Sedangkan untuk kegiatan eksploitasi di lapangan minyak harus bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Daerah.